Saturday, December 19, 2009

rindu















cahaya
menari-nari
angin
menyisir rambut
udara
bagaikan
dapat dihiris
kulit
dengan bauan
yang melekat
mata
menitiskan air
bibir
dengan senyuman
sianak kecil
jasad
diawangan
hati
melaut biru

rindu
menjadi nadi
berdenyut-denyut
hidup dan
abadi

3 comments:

Cahaya Kekasih said...

nice house..

ni puisi yg saya dapat pagi tu kan?

++ adique awin ++ said...

sedih..

Najwa Aiman said...

Qiyamullail...?